Tugas mandiri 15 E09=Nur Hidayah

 


Nama: E09=Nur Hidayah

Nim​   : 4125010210

 

 

Antara Adaptasi dan Identitas: Bahasa Asing, Globalisasi, dan Masa Depan NasionalismeIndonesia

 

Pendahuluan

Globalisasi telah mengubah wajah dunia menjadi ruangtanpa sekatPerkembangan teknologi informasimobilitas manusiaserta arus budaya lintas negara membuat interaksi antarbangsa semakin intens. Di tengah arus tersebut, Indonesia sebagai negara multikultural menghadapi tantangan serius dalammempertahankan jati diri bangsanya. Salah satufenomena yang paling terlihat adalah semakin masifnyapenggunaan bahasa asingkhususnya bahasa Inggris—di ruang publikmulai dari nama toko, iklan, media sosialhingga dunia pendidikan.

Fenomena ini memicu perdebatanapakah dominasibahasa asing menandakan lunturnya nasionalismeAtaukah justru merupakan bentuk adaptasi yang diperlukan agar bangsa ini mampu bertahan dan bersaing di kancah global? Pertanyaan ini menjadipenting karena bahasa bukan sekadar alat komunikasimelainkan juga simbol identitaskebudayaan, dan kebanggaan nasional. Oleh karena ituposisinasionalisme di era global harus dikaji ulang agar tidakterjebak pada romantisme masa lalutetapi juga tidakkehilangan akar kebangsaan.

 

Batang Tubuh (Argumen)

Bahasa memiliki peran strategis dalam membentukidentitas suatu bangsaMenurut Anderson (2006), bangsa adalah “komunitas terbayang” yang dibangunmelalui simbolnarasi, dan bahasa yang sama. Ketika bahasa nasional semakin tersisih di ruang publikadarisiko melemahnya rasa memiliki terhadap identitasnasional itu sendiri. Di Indonesia, fenomena ini tampakdari maraknya penggunaan istilah asing seperti salediscountcoffee shopworkspace, dan beauty clinicbahkan ketika padanan bahasa Indonesia tersedia.

Lebih jauhpenggunaan bahasa asing sering kali dikaitkan dengan prestise sosial. Banyak anak mudamenganggap bahasa Inggris lebih modern, keren, dan berkelas dibandingkan bahasa Indonesia. Pola pikir inisecara tidak langsung menempatkan bahasa nasionalsebagai simbol keterbelakanganbukan kebanggaan. Jika dibiarkanhal ini dapat membentuk mentalitasinferior—merasa lebih rendah dibandingkan budaya luar—yang pada akhirnya mengikis nasionalisme itu sendiri.

Namunmenyederhanakan persoalan ini sebagaisekadar “lunturnya nasionalisme” juga tidak sepenuhnyatepat. Dalam konteks global, bahasa asing merupakanalat adaptasiPenguasaan bahasa internasionalmembuka akses terhadap ilmu pengetahuanpeluangkerjajaringan global, dan inovasiTanpa kemampuaninigenerasi muda Indonesia justru akan semakintertinggal. Oleh karena itumasalahnya bukan pada penggunaan bahasa asing itu sendirimelainkan pada posisi bahasa Indonesia yang semakin termarginalkan.

Realita di lapangan menunjukkan bahwa banyakinstitusi pendidikan lebih mengutamakan bahasa asingdaripada penguatan bahasa nasional. Sekolah-sekolahbertaraf internasional sering kali menjadikan bahasaInggris sebagai bahasa utamasementara bahasaIndonesia hanya pelengkap. Di media sosialfenomenacode-switching (mencampur bahasamenjadi tren yang dianggap lebih “gaul”. Ini menunjukkan bahwa bahasaIndonesia tidak lagi ditempatkan sebagai simbol utamaidentitas nasionalmelainkan sekadar alat komunikasibiasa.

Jika tren ini terus berlanjut tanpa kontrolmaka bahasaIndonesia berpotensi kehilangan fungsi simboliknyasebagai perekat bangsaNasionalisme yang sehatseharusnya tidak bersifat eksklusif atau anti-global, tetapi juga tidak boleh kehilangan akar budayaNasionalisme bukan berarti menolak bahasa asingmelainkan memastikan bahwa bahasa nasional tetapmenjadi pusat identitas kolektif.

 

Solusi & Adaptasi

Nasionalisme di era global harus bersifat dinamis dan adaptifPertamagenerasi muda perlu membangunkesadaran bahwa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar bukanlah tandaketerbelakanganmelainkan bentuk kebanggaanKampanye literasi digital, konten kreatif, dan gerakanbudaya berbasis bahasa Indonesia harus diperkuat. Influencer, kreator konten, dan tokoh publik memilikiperan besar dalam membentuk tren ini.

Keduapemerintah perlu lebih tegas dalam mengaturpenggunaan bahasa di ruang publikUndang-UndangNomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara sebenarnya telah mengatur kewajibanpenggunaan bahasa Indonesia di ruang publikNamunimplementasinya masih lemahPenegakan aturan inibukan untuk membatasi kreativitasmelainkan untukmemastikan bahwa bahasa nasional tetap menjadiidentitas utama.

Ketigasistem pendidikan harus menanamkannasionalisme linguistik sejak diniPembelajaran bahasaIndonesia tidak boleh hanya berfokus pada tata bahasatetapi juga pada nilai historisfilosofis, dan ideologisnyaSiswa perlu memahami bahwa bahasa Indonesia adalah hasil perjuangan politik dan budaya yang menyatukan bangsa ini.

Keempatnasionalisme harus diposisikan sebagaiketerbukaan yang berakarArtinyagenerasi mudaboleh dan bahkan harus menguasai bahasa asingtetapi tidak boleh kehilangan rasa bangga terhadapbahasa sendiriPenguasaan bahasa asing harus dilihatsebagai alatbukan pengganti identitas.

 

Kesimpulan

Penggunaan bahasa asing yang masif di ruang publiktidak selalu berarti lunturnya nasionalismetetapi dapatmenjadi tanda bahaya jika bahasa nasional kehilanganposisi strategisnyaNasionalisme di era global bukantentang menutup diri dari dunia, melainkan tentangmenjaga identitas sambil tetap terbuka terhadapperubahan.

Indonesia membutuhkan bentuk nasionalisme barunasionalisme yang tidak defensiftetapi percaya diritidak eksklusiftetapi berakar. Bahasa Indonesia harustetap menjadi simbol utama identitas bangsasementara bahasa asing diposisikan sebagai alat untukberkembang. Jika keseimbangan ini dapat dijagamakaglobalisasi tidak akan menjadi ancamanmelainkanpeluang untuk memperkuat jati diri bangsa di matadunia.

 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E09=Nur Hidayah

E09=Nur Hidayah TUGAS STURUKTUR 02

E09=Nur Hidayah TUGAS mandiri 02