E09=Nur Hidayah TUGAS STRUKTUR 11

Nama :Nur Hidayah 

Nim:43125010210

TUGAS STRUKTUR 11


 Strategi Ketahanan Ideologi di Media Sosial

Pendahuluan

Dalam kerangka Astagatra—yang membagi unsur ketahanan nasional ke dalam trigatra (geografi, demografi, alam) dan pancagatra (ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan)—ketahanan ideologi menjadi salah satu gatra paling rentan pada era digital. Media sosial, sebagai ruang publik baru, kini menjadi arena kontestasi nilai, narasi, dan identitas yang secara langsung memengaruhi keteguhan ideologi Pancasila. Transformasi digital yang cepat tidak selalu diiringi literasi memadai, menciptakan celah bagi penyebaran hoaks, ekstremisme, dan polarisasi politik. Oleh karena itu, sektor Ketahanan Ideologi di media sosial layak diprioritaskan untuk ditangani secara strategis demi mencegah potensi disintegrasi bangsa.

Analisis Ancaman

Terdapat dua anasir disintegrasi utama yang memengaruhi gatra ideologi di ruang digital:

  1. Radikalisasi dan Ekstremisme Daring
    Kelompok ekstrem memanfaatkan algoritma platform digital untuk menyebarkan narasi anti-negara, intoleransi, dan ideologi alternatif yang bertentangan dengan Pancasila. Dengan memanfaatkan ruang-ruang diskusi tertutup dan teknik segmentasi audiens, pesan-pesan radikal dapat menyasar kelompok muda yang belum memiliki filter ideologis kuat. Paparan berulang terhadap konten seperti ini berpotensi mengikis kohesi nasional serta memicu tindakan kekerasan atas nama ideologi.

  2. Polarisasi Politik dan Disinformasi
    Disinformasi politik, framing selektif, dan ujaran kebencian memperparah polarisasi yang dapat meregangkan ikatan kebangsaan. Konflik digital yang semula hanya berupa “perang opini” sering berkembang menjadi konflik sosial nyata. Polarisasi yang berlarut-larut menciptakan delegitimasi terhadap institusi negara, melemahkan rasa percaya publik, dan pada akhirnya mengancam ketahanan ideologi karena nilai persatuan tidak lagi menjadi rujukan moral bersama.

Analisis Interdependensi Gatra

Sektor ketahanan ideologi sangat dipengaruhi oleh dua gatra lain yang saling terkait:

  1. Gatra Sosial Budaya
    Perubahan sosial yang cepat akibat penetrasi teknologi digital memengaruhi pola interaksi dan pembentukan nilai. Masyarakat yang memiliki kohesi sosial rendah dan rentang literasi digital yang timpang menjadi lebih rentan terhadap konflik identitas. Di sisi lain, ketahanan ideologi yang kuat dapat memperkuat ketahanan sosial budaya melalui internalisasi nilai Bhinneka Tunggal Ika dan norma toleransi.

  2. Gatra Politik
    Stabilitas politik sangat dipengaruhi kualitas komunikasi politik di ruang digital. Jika elite politik memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan narasi provokatif, maka ketahanan ideologi akan melemah. Sebaliknya, regulasi politik yang efektif—misalnya etika kampanye digital—dapat mendukung ekosistem informasi yang sehat dan memperkuat ideologi negara.

Desain Strategi Simulatif

Nama Program: “Digital Pancasila Guardians (DPG)”
Tujuan:

  1. Meningkatkan literasi ideologi dan literasi digital masyarakat sehingga terjadi penurunan penyebaran konten ekstremisme dan disinformasi sebesar 30% dalam tiga tahun.

  2. Membangun ekosistem digital yang aman dan produktif melalui kolaborasi multi-stakeholder.

Langkah Implementasi:

  1. Pendirian Pusat Moderasi Narasi Pancasila (PMNP)
    Mengembangkan tim multi-disiplin yang bertugas memantau tren narasi negatif di media sosial serta menghasilkan kontra-narasi kreatif berbasis Pancasila dalam bentuk video pendek, infografik, dan kampanye interaktif.

  2. Pelatihan “Influencer Kebangsaan”
    Merekrut 1.000 kreator konten muda dari seluruh provinsi untuk dibekali modul ideologi, komunikasi digital, dan etika informasi sehingga mampu menjadi agen diseminasi nilai kebangsaan di platform masing-masing.

  3. Program Literasi Digital Terintegrasi di Sekolah dan Komunitas
    Membuat kurikulum mikro-modul berisi analisis hoaks, pemahaman ideologi, dan etika bermedia sosial. Modul dilaksanakan melalui workshop, simulasi kasus, dan permainan digital edukatif.

  4. Kolaborasi dengan Platform Media Sosial
    Bekerja sama dalam pengembangan fitur pelaporan cepat untuk konten radikalisme, disinformasi, dan ujaran kebencian; serta melakukan kampanye bersama tentang keamanan digital berbasis Pancasila.

  5. Monitoring & Evaluasi Berkelanjutan
    Menggunakan dashboard analitik nasional untuk memantau persebaran konten negatif dan efektivitas kampanye kontra-narasi.

Indikator Keberhasilan:

  • Penurunan 30% konten ekstremisme dan hoaks yang tersebar secara viral (berdasarkan data fact-checker dan analitik media sosial).

  • Peningkatan 40% partisipasi publik dalam kampanye ideologi positif.

  • 80% peserta pelatihan menunjukkan peningkatan kemampuan analisis hoaks (melalui pre-test dan post-test).

  • Terbentuknya jejaring influencer kebangsaan yang aktif menghasilkan minimal 5.000 konten positif per tahun.

Kesimpulan & Rekomendasi

Ketahanan ideologi di media sosial merupakan sektor strategis yang sangat menentukan keutuhan bangsa dalam era informasi. Ancaman radikalisasi digital dan polarisasi politik menuntut respons sistematis dan berbasis kolaborasi. Melalui program Digital Pancasila Guardians, ketahanan ideologi dapat diperkuat melalui literasi yang holistik, pemberdayaan kreator muda, serta kerja sama langsung dengan platform digital. Pemerintah perlu menyediakan regulasi dan dukungan kelembagaan; masyarakat berperan sebagai aktor aktif dalam menyaring dan menyebarkan informasi positif; sementara akademisi menyediakan riset, kurikulum, dan evaluasi yang dapat memastikan strategi berjalan efektif dan adaptif. Dengan sinergi tersebut, nilai-nilai Pancasila dapat tetap menjadi jangkar identitas bangsa di tengah dinamika global yang terus bergerak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E09=Nur Hidayah

E09=Nur Hidayah TUGAS STURUKTUR 02

E09=Nur Hidayah TUGAS mandiri 02